Surabaya – Prestasi membanggakan ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) di kancah internasional. Mereka sukses mengamankan medali perunggu atau bronze medal dalam ajang MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC) yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pencapaian tersebut diraih oleh Chelsea Hani Marcelia Sundawa, Istirarosa Artisa Putra, serta Ratu Zahra Angelita yang berasal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), bersama Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi UNAIR. Mereka memperkenalkan inovasi paving block ramah lingkungan berbahan dasar limbah perikanan dalam kompetisi yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.

Medali perunggu itu resmi didapatkan pada Senin (28/9/2026), usai tim UNAIR bersaing ketat dengan para peserta dari bermacam-macam jenjang pendidikan, mulai dari mahasiswa program sarjana, magister, doktor, hingga kalangan praktisi serta dosen.

Kompetisi tingkat internasional tersebut diselenggarakan oleh Malaysia Japan International Institute of Technology (MJIIT) yang berada di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur. Tantangan bagi tim UNAIR kian besar karena seluruh karya peserta dinilai dalam satu kategori yang sama tanpa pemisahan berdasar jenjang pendidikan.

Bagi Chelsea beserta rekan-rekan setimnya, capaian ini merupakan prestasi tersendiri karena mereka mampu membawa produk riset mahasiswa strata satu (S1) untuk bertarung di panggung global menghadapi para peneliti dari tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

“Awalnya tidak menyangka bisa meraih bronze medal. Mengingat lawannya tidak hanya sesama mahasiswa S1, tetapi ada jenjang S2, S3, bahkan dosen dari berbagai negara di Asia. Ini experience luar biasa bagi kami,” tutur Chelsea.

Inovasi dari Limbah Perikanan

Penghargaan internasional tersebut didapatkan berkat gagasan yang bersumber dari problem infrastruktur di daerah. Chelsea memaparkan, ide untuk menciptakan paving block ramah lingkungan ini timbul setelah mengamati situasi jalan di salah satu kawasan di Tuban yang mengalami kerusakan, menjadi becek, serta sering tergenang air.

“Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” ucapnya.

Selanjutnya, tim merancang paving block dengan memanfaatkan tepung cangkang kerang kapah serta tulang ikan sebagai bahan pengganti sebagian semen. Mereka turut memasukkan unsur alginat berfungsi sebagai zat perekat atau binder.

Komposisi tersebut memungkinkan pengurangan pemakaian semen konvensional hingga kira-kira sepertiga bagian. Di samping memproduksi material alternatif, terobosan ini sekaligus memberikan jalan keluar dalam mengelola limbah perikanan yang sebelumnya belum termanfaatkan secara maksimal.

Mengusung Konsep Zero Waste

Bukan hanya mengandalkan pembaruan material, kelompok mahasiswa UNAIR ini juga mengutamakan prinsip zero waste serta penghematan biaya. Cangkang kerang serta tulang ikan yang dipakai didapatkan secara gratis dari para pedagang perikanan di pasar tradisional setempat.

Bahan-bahan tersebut mesti melalui tahap pencucian dan pengeringan memakai oven bersuhu 100 derajat Celsius selama rentang waktu empat sampai lima jam. Sesudah kering, material dihaluskan dengan grinder dan dilanjutkan penyaringan menggunakan ukuran 100 mesh untuk tulang ikan serta 80 mesh bagi cangkang kerang.

Satu tahapan krusial dalam pengerjaannya ialah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Langkah ini dikerjakan demi menghilangkan bau amis sekaligus menghasilkan material yang lebih pas difungsikan sebagai bahan pembentuk paving block.

“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” urai Chelsea.

Berdasarkan pengujian dalam skala laboratorium, paving block temuan mereka sanggup mengering serta mengeras dengan tingkat kepadatan yang memadai dalam kurun waktu sekitar tiga hari.

Medali Perunggu Jadi Motivasi

Bagi Chelsea bersama ketiga anggota kelompok lainnya, keberhasilan membawa pulang medali dari ajang internasional ini bukan sekadar bentuk apresiasi terhadap karya yang mereka ciptakan. Prestasi tersebut turut menjadi pengalaman berharga guna membawa riset mahasiswa UNAIR agar mampu berkompetisi di ranah internasional.

Terlebih lagi, mereka diwajibkan melakukan presentasi karya secara langsung di kota Kuala Lumpur serta berhadapan langsung bersama peserta dari bermacam negara serta latar belakang akademis yang beragam.

Medali perunggu yang sukses diraih ini membuktikan bahwa karya yang berakar dari masalah lokal serta pemanfaatan limbah perikanan terbukti sanggup memperoleh apresiasi di tingkat dunia.

Ke depannya, pencapaian ini diharapkan mampu memantik semangat tim untuk terus mengembangkan produk inovasinya supaya tidak berhenti pada kemenangan lomba saja, melainkan dapat diwujudkan sebagai solusi nyata yang berguna bagi masyarakat luas.

Leave a comment

Quote of the week

“People ask me what I do in the winter when there’s no baseball. I’ll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring.”

~ Rogers Hornsby

© 2026 Kediricyber.com. All Rights Reserved.